Home | Schedule | History | About Bridge | Archives | Members | Ukor UI | Links

Bridge Books
Commemorative Boards
Once Upon a Time

Bridge di Jurusan Elektro, angkatan 87

 

Ada sekitar 150 orang mahasiswa di jurusan elektro angkatan 87, dimana saat pertama kali masuk ke lingkungan UI secara resmi adalah saat kami menjadi mahasiswa baru di upacara peresmian Kampus Baru UI Depok, 6 September 1987. Soeharto yang menjabat Presiden pada saat itu meresmikan Kampus Baru tersebut, di Balairung, Depok.

Bulan-bulan pertama kuliah sangatlah sulit, disamping kami menjalani masa per-plonco-an dari kakak-kakak senior kami, kami juga harus berjalan kaki dari kampus Teknik ke jalan Margonda pulang-pergi. TETAPI keadaan seperti itulah yang memicu kebersamaan kami dalam setiap kegiatan perkuliahan, termasuk menitip absensi, fotokopi kolektif, tebeng-menebeng keluar dan masuk kampus setelah mahasiswa/i boleh membawa kendaraan pribadi dan juga aktifitas kolektif lain. Di depan Gerbatama (Gerbang Utama) UI sering terlihat mahasiswa/i yang antri untuk "liften" masuk ke dalam kampus. Baru setelah ada BUS KUNING keadaan mulai membaik.

Kembali ke "kebersamaan" tersebut diatas, kami yang terdiri dari sekitar delapan (8) orang mahasiswa elektro angkatan 87 tinggal menetap bersama di sebuah rumah di Jl Bayam, Depok Utara. Rumah tersebut adalah milik orangtua salah seorang teman sekelas kami, Hendra Valiandi (Andi), yang setahun kemudian pindah ke Amerika Serikat untuk mengambil kuliah di sana melalui beasiswa PT PAL. Sampai sekarang rekan kami tersebut masih menetap di Amerika Serikat dan juga anggota milis Gabrial-UI.

Sekian lama tinggal menetap bersama di bawah satu atap dimana orangtua Andi juga seorang pemain bridge dari Angkatan Laut, maka banyak buku-buku bridge yang kami peroleh dan pelajari dari beliau selama proses mengenal bridge. Diinisiasikan oleh rekan kami, yang juga ketua angkatan 87, Jaya Muslimin, kami menghabiskan waktu di rumah tersebut bermain truf dan bridge dari pagi sampai pagi. Jaya Muslimin yang berpasangan dengan Agus Kurniawan sempat membuat sistem penawaran (bidding system) yang termotivasi dari buku-buku bridge yang kami baca, diantaranya adalah karena menurut buku 1C-1D adalah negatif reponse maka 1D-1H juga negatif response, juga 1H-1S adalah negatif response. Sistem penawaran (bidding) yang coba-coba ini tidak berkembang karena logic background-nya tidak mendukung dan sering mendua di tengah jalan. Jadi akhirnya kami memakai sistem Precision dari buku Tan Eng Kie. Dalam perkembangannya semua buku bridge Tan Eng Kie kami gilir, juga buku Teknik Sepit karangan DR Johanes yang diperoleh secara kebetulan di Pasar Senen oleh rekan kami, Soca Trisula. Jasa orangtua Andi, Oom Mulyadi, juga sangat besar dalam perkembangan kemampuan "play" dan "defense" karena beliau sering datang dari Surabaya untuk menjenguk Andi dan bermain bridge bersama kami.

Sering juga kami bermain di kantin FT sampai magrib, bahkan diteruskan sampai pagi di markas kami di Depok. Sampai suatu ketika, saat kami sedang bermain bridge di kantin pada jam-jam kuliah, kami ditegur oleh istri Dekan dan kartu bridge kami diambil dan dicoba untuk disobek oleh beliau. Tetapi karena kartu bridge tersebut terbuat dari plastik (anti sobek dan anti air), maka beliau tidak berhasil menyobeknya. Kamipun bubar jalan karena tidak bisa bermain lantaran beberapa lembar kartunya diambil dan dibawa pergi oleh istri Dekan.

Tibalah suatu ketika, kakak-kakak kelas kami, yaitu Johan Mamesah, Widi Pancono, Machyuliz Machnizon dan Ali Ridho (yang belakangan kami tahu bahwa dua nama disebut terdepan adalah pemain bridge nasional junior) mengajak kami untuk mengikuti sebuah turnamen bridge di Jakarta. Kami sendiri tidak tahu bahwa bridge itu ada turnamennya. Begitu antusiasnya kami mengikuti turnamen tersebut sehingga kami datang dengan supporter yang juga rekan-rekan kami seangkatan. Ajaibnya pada turnamen tersebut, bila tidak ingin dibilang sukses, kamipun berhasil menghindari meja-meja bawah (bertahan di meja tengah). Juara pada turnamen tersebut untuk kategori junior/mahasiswa ternyata adalah kakak-kakak kelas kami juga, yaitu Idham HS Purba, Mirza Helmi, Sudewo, Heryanto M Toha (Hengki), Widodo Wirawan dan Faried Iskandar, yang ternyata mereka sudah terdaftar dalam sebuah klub, bernama SANTAY.

Setelah beberapa lama, dengan rekomendasi dari kakak-kakak kelas dan Amin Ramali (Pengda GABSI DKI Jakarta), maka kami diterima di sebuah klub juga, bernama BUANA, yang latihan rutin di Bulungan Bridge Center setiap malam Selasa. Kami manfaatkanlah jadwal tersebut untuk terus bermain, belajar bridge dengan serius dari pemain-pemain yang berpengalaman untuk mencapai prestasi. Turnamen bridge besar yang sempat kami ikuti dengan membawa nama klub BUANA adalah kejuaraan bridge PABF (Paficic Asian Bridge Federation) tahun 1989, di Hotel Indonesia, Jakarta. Selang beberapa semester, rekan kami seangkatan, lolos seleksi nasional untuk menjadi anggota tim junior nasional mengikuti jejak Johan Mamesah-Widi Pancono, yaitu Soca Trisula - M Thariq Manti (Kiki). Dalam masa-masa bridge menjadi hobby utama kami, banyak prestasi yang telah kami peroleh dengan berbendera BUANA, Elektro UI maupun UI, diantaranya adalah pada turnamen KASAL Cup, Kartini Cup, Djarum Cup, Petra Cup, Rektor ITB Cup, TBEC, Dekan Cup, UI Cup, Epson Worldwide Bridge Contest, Kejurnas Bridge, Sirkuit Bapindo dan lain-lain.

Anggota Tim Bridge, Jurusan Elektro, Angkatan 87 adalah sebagai berikut:

  1. Jaya Muslimin
  2. Agus Kurniawan
  3. Soca Trisula
  4. M Thariq Manti (Kiki)
  5. Tommy Suhendra
  6. Yudhi Ekayanto
  7. Yulius Nixon, dan
  8. Hendra Valiandi

Sejalan dengan perkembangan kami di lingkungan bridge FTUI, kami juga berkembang bersama dengan rekan-rekan kami dari jurusan lain di FTUI, yaitu Sipil, Mesin (Franky cs), Metalurgi (Yusri, Romen, Kokoh, Husni dan lain-lain), Arsitek dan Gas & Petrokimia, terbukti dengan selalu ramainya persaingan merebut juara pada setiap tahun penyelenggaraan Dekan Cup, cabang Bridge. Bahkan ramainya persaingan juga terlihat pada setiap tahun penyelenggaraan Elektro Cup, cabang Bridge. Di lingkungan bridge UI juga terjadi persaingan yang cukup ketat terutama dengan F-MIPA dimana ada Joto Then, Lucky, Yusfiannur, Rizal, Andang, Yulian Tosra, Marfuan Fuad, Ekklesia Bukit, Dajal dan Caing dan lain-lain. Dari Sastra ada Surung Marpaung cs. Dari Kedokteran ada Anton cs. Dari Psikologi ada Peter Tora, Robert Tobing (sekarang pemain nasional putra), Benny Noverdi, Bambang Lukito (Imo), Jack, Umar Farouk dan lain-lain.

Melalui bridge kami juga mengalami proses pendewasaan dan pembinaan karakter problem solver serta bisa membina hubungan dengan orang lain dengan komunikasi yang baik. Melalui bridge juga kami merasakan hubungan yang erat dan tidak terputus satu sama lain, sehingga kami sangat mendukung terbentuknya Gabrial-UI, dimana kita semua para alumni pemain bridge bisa melakukan aktifitas kembali di olahraga bridge.

Melalui tulisan ini, kami juga ingin haturkan salut dan ucapan terimakasih kepada Bapak Andjat D Lamey (almarhum) yang telah membina kami selama kami menjadi anggota klub bridge beliau, BUANA. Juga kepada senior-senior bridge di jurusan Elektro FTUI yang telah mentransfer pengetahuan bridge mereka kepada kami dan membukakan jalan menuju prestasi dan kebersamaan.

Bridge merupakan olahraga pilihan kami saat itu selama kami kuliah di jurusan elektro dan kami teruskan untuk menjalaninya melalui wadah yang kita buat bersama, Gabrial-UI. Semoga Gabrial-UI tetap maju dan sarat dengan prestasi dan kebersamaan di masa datang.

Saya juga mengharapkan agar rekan-rekan alumni UI yang lain juga ikut sharing tentang pengalamannya bermain bridge di UI semasa kuliah dan sampai sekarang melalui tulisan di website ini, www.gabrial-ui.com.

Salam Bridge
Tommy Suhendra

"Always choose the hard way of play, if you want to be a better bridge player"